Showing posts with label #30HariMenulisSuratCinta. Show all posts
Showing posts with label #30HariMenulisSuratCinta. Show all posts

Monday, 11 February 2013

Two Days Ago, It Feels Surreal

Hallo, Dear You

Two days ago...
It feels surreal that i was waiting for you.
And you were hiding me from your friend that i was with you.

Two days ago...
It feels surreal that finally we made a decision to go somewhere together.
Just both of us.

Two days ago...
It feels surreal that you were holding my hands,
It feels surreal that you were hugging me tightly,
It feels surreal that i was leaning my hand to your shoulder,
It feels surreal that you were embrace me in your chest,
It feels surreal that i was sleeping in your thigh,
It feels surreal that you pat my head,
It feels surreal that you were stroking my cheeks,
It feels surreal that you were trying to protect me from the cold,
It feels surreal that we share the same earphone and listening to music together,
It feels surreal that the laugh and the smile that you made at that day just for me.

Two days ago...
It feels surreal that i was waiting the bus for 3 hours with you,
The adventure that usually i do by my self.
But, two days ago i was spend my time with you.
It feels surreal that i was spend my 10 hours with you.

Thanks for it.

For that day, the day that i may never repeat it again and again.

Regards me,
The one who don't know what to describe us.

-A

Friday, 8 February 2013

Saya dan Kamu

Kangar, 8 februari 2013

Ini adalah surat ke- tiga dalam #30HariMenulisSuratCinta yang saya buat. Meskipun seharusnya saya menuliskan 26 surat di tanggal ini. Fokus dan konsekuen itu sulit, tapi satu hal yang saya bisa lakukan akan hal ini adalah tetap mencintai kamu.

Kepada kamu,
Yang merubah hidup saya sejak beberapa tahun lalu. Kamu adalah alasan mengapa saya terus ingin kembali ke tanah air. Kamu adalah orang yang selalu ingin saya temui saat saya berada di kota yang sama dengan mu. Kota dimana kita menghirup udara yang sama dan kota yang mempertemukan kita, beberapa tahun silam (saya pun tidak pernah menyangka bahwa saya bisa mencintai seseorang selama ini).

Sejujurnya, saya bukanlah orang yang mudah untuk mempertahankan cinta. Bukan pejuang cinta dan juga pengemis cinta. Tapi, bertahan pada suatu cinta adalah sesuatu yang luar biasa untuk saya. Kamu yang membuat saya begitu jatuh cinta padamu. Setia bukan hanya sesuatu untuk mereka yang terikat pada suatu hubungan saja, kan?

Ada banyak hal yang terjadi pada saya, semua karena kamu. Tentu semua hal tersebut adalah hal yang baik. Kamu mengubah pola pikir, pola hidup dan sudut pandang saya. Sungguh, hidup saya jauh lebih bermakna setelah bertemu kamu. Wajar kan, setiap apapun yang pernah kita lewati sangat saya ingat setiap detailnya? Ya, tentu saja kamu tau jawabannya. Karena kamu begitu berharga, seperti namamu.

Saya sendiri tidak tau harus menuliskan apalagi tentang kamu. Saya sudah pernah merasakan penasaran, suka, jatuh cinta, sangat cinta, bertahan pada cinta dan mempertahankan cinta saya padamu. Walaupun saya tidak pernah menyatakan ini secara serius padamu atau mengungkapkan dengan gamblang. Kamu mungkin tidak pernah menyadari bahwa orang yang paling mencintaimu adalah orang yang tak pernah menyatakkannya padamu. Kamu tau kenapa? Karena dia takut, kamu akan berubah dan berpaling hilang dari pandangannya.

Terakhir kali saya berjumpa denganmu, jantung saya sejujurnya hampir saja lepas. Degub jantung ini berdetak dengan hebatnya. Pada akhirnya, setelah beberapa tahun berlalu, kita mengerti bahwa sebetulnya kita sama-sama saling mencintai. Terlibat dalam suatu kenyamanan yang sama. Sejauh apapun saya atau kamu pergi, kita akan tetap kembali menjadi sediakala. Tetap kembali di tempat yang sama dimana kita di pertemukan. Tentu, tetap dengan suasana hati yang sama. Yang membedakan hanyalah, perasaanmu padaku yang baru terungkap sekarang.

Kita berdua, telah tumbuh menjadi sangat matang seiring berjalannya waktu. Dan semakin paham bahwa cinta kita (atau mungkin saya) semakin kuat. Hanya saja, kita tidak memungkinkan untuk bersama. Memang pahit. Tapi satu hal, yang kamu harus tau bahwa, sampai kapanpun mungkin perasaanku padamu tidak akan pernah berubah. Meski nanti aku atau kamu akan hidup dan tinggal dengan orang lain sekalipun. Karena aku tau hatimu hanya untukku dan kaupun tau, aku juga begitu...

Terima kasih ya kamu. Terima kasih atas segala sesuatu yang baik, yang telah diajarkan pada saya yang masih awam tentang apapun. Pembelajaran hidup yang tidak akan pernah saya bisa dapatkan di bangku sekolah manapun. Terima kasih telah membuat saya menjadi stalker yang hebat, hahaha maafkan saya yang suka stalking kamu diam-diam karena kamu tidak cerita banyak pada saya sehingga membuat saya penasaran :D. Terima kasih untuk tetap sudi berteman dan menjadi teman terbaik saya. Terima kasih telah membuat saya menjadi pengagum (sekaligus pecinta) kamu yang paling setia. Terima kasih telah membuat deguban-deguban kencang dan membuat tangan menjadi kaku dan dingin di setiap pertemuan kita (walaupun tentu saja hal tersebut tidak akan pernah nampak di matamu. Aku aktris yang hebat bukan? :D). Terima kasih untuk tetap menjadi kamu dan tidak berubah apapun yang terjadi.

Saya tau, meskipun saya tidak pernah dengan tegas mengatakan bahwa saya pernah mencintai kamu, saya masih mencintai kamu dan saya tetap jatuh cinta padamu, kamu tau akan hal itu dan saya yakin kamu membaca tulisan ini (sekaligus sadar bahwa yang saya tuliskan ini adalah kamu^^).
Saya,
-A

Saturday, 19 January 2013

Sejuta Cinta dan Do'a Menuju Surga

Palembang, 19 Januari 2013

Maafkan aku, nenek untuk segala kesalahan dan keegoisan cucumu.

Waktu aku masih remaja, aku tidak akan pernah menyangka bahwa aku akan sesedih ini ditinggalkan oleh seorang nenek yang begitu menyayangiku. Tidak pernah terbesit sekalipun bahwa aku akan sesakit ini ditinggalkan. Baru saja kemarin rasanya nenek menjemputku dibandara. Dengan uraian air mata tentunya. Lalu kemarin pula nenek meninggalkan aku. Bukan, bukan hanya aku. Tapi kami semua di sini, di dunia untuk selama-lamanya.

Aku tidak pernah ingin terlihat sedih apalagi menangis didepan orang. Dan aku pun memiliki syndrome tersebut, yang tidak pernah bisa menangis didepan orang lain. Tapi kemarin, aku menangis dalam diam. Hanya ada air mata, diam dan do'a. Di depan jenazahmu aku menangis. Aku belum bisa percaya bahwa engkau telah tiada secepat itu.

Firasat-firasat yang terjadi dua minggu sebelum kepulangan ku ke tanah air dan sebelum kepergianmu, kembali teringat dalam benakku. Semua beban yang sempat kutepis untuk menenangkan diriku sendiri. Baru kemarin, aku merasa menemukan jawaban atas segala risau hati yang saat itu tak kunjung menemukan jawaban.

Sejujurnya, selain merasa kehilangan, aku menangis untuk segala sesuatu yang belum sempat kulakukan untukmu. Ingin sekali rasanya selalu ada, merawat dan mendampingimu di saat engkau sedang sakit. Ingin sekali rasanya membalas segala kebaikan dan perhatian yang selalu dicurahkan oleh dirimu, Nek.

Aku pasti akan sangat merindukan hal-hal tersebut. Apalagi nenek suka sekali memasak kue-kue kecil seperti kue kojo dan srikaya. Buatan nenek memang tiada duanya!

Sedih rasanya, bahwa aku tidak bisa membalas perhatian nenek seperti nenek memperhatikan dan memikirkan aku. Apalagi aku hidup jauh dari kota dan negara ini. Nenek pasti menjadi orang pertama yang cemas akan segala sesuatu tentangku.

Nenek,
akan tiada lagi dirimu yang memaksa untuk ikut mengantar atau menjemputku di bandara
akan tiada lagi dirimu yang beruraian air mata melepaskan ku pergi atau menyambut kedatanganku
akan tiada lagi dirimu yang selalu menggenggam erat tanganku saat aku berada disisimu
akan tiada lagi dirimu yang selalu menelpon untuk datang kerumahmu, menikmati kue-kue buatanmu
akan tiada lagi dirimu yang selalu menanyakan keadaanku, keperluanku, keuanganku
akan tiada lagi dirimu yang memarahiku
dan akan tiada lagi hal lainnya yang akan selalu kurindukan...

Sampai surat ini kutulis, aku masih menangis dalam diam. Aku masih menangis dalam setiap do'a-do'a yang kutitipkan pada malaikat agar tuhan menempatkanmu disisi-NYA, Nenek.

Terima kasih atas segala perhatian dan larangannya yang aku tau, itu adalah yang terbaik untukku. 
Terima kasih Nenek, telah melahirkan anak yang menjadi ayahku. Anakmu merupakan ayah terhebat seluruh dunia untukku.

Selamat jalan nenek, sejuta kata tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan betapa cintanya aku padamu. Tapi do'aku, akan lebih dari sejuta kali untukmu. Akan kubuat malaikat sibuk dengan sejuta cinta dan do'a menuju surga.

Cucu yang sangat engkau cintai dan mencintaimu,

Ayu.

Wednesday, 16 January 2013

Kepada Kamu

Kepada kamu...

Tidak ada seorang pun yang menyukai perubahan. Meskipun setiap perubahan tidak bisa di hindari. Baik kita sadari ataupun tidak. Semua bisa saja terjadi oleh karena berbagai sebab. Tetapi perubahan yang terjadi padaku dan kamu, perubahan yang terjadi pada kita merupakan perubahan yang terjadi dikarenakan waktu.

Aku mengenalmu mungkin lima tahun yang lalu. Jika terlintas difikiran, lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tentu sudah banyak hal yang telah terjadi. Tetapi tidak dengan kita. Lima tahun berlalu seperti baru terjadi kemarin. Seperti baru saja aku mengenalmu.

Jika ditanyakan padaku, kapan pertama kali mendengar namamu, tentu kau pun sudah tau bahwa aku mengetahui namamu dari salah seorang sahabat kita, Noi Aswari (@noiaswari). Saat itu memang tidak terbayangkan bahwa aku pun akan turut mengenalmu, dekat dan sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa hubungan kita akan lebih akrab daripada hubunganku dengannya yang telah mengenalkan aku padamu. Secara logikanya, aku mengenalmu karena alam semesta. Karena takdir. Disaat aku sedang sibuk dengan kegiatan jurnalistik ku, dan kamu sibuk dengan 'kontes ratu kecantikan' di kota kita waktu itu. Saat itu kebetulan aku mendapat bagian untuk mencari dan mewawancarai salah satu dari kalian yang berprestasi dan masih berstatus sebagai pelajar. Seingatku, semua itu terjadi di tahun 2007.

Sering kali aku flashback tentang apa yang aku lakukan untuk memulai percakapan pertama denganmu. Aku setengah berteriak memanggil namamu lalu kamu menoleh mencari sumber suara. Ya, lalu kamu menemukan aku. Yang sedikit berbasa-basi lalu meminta nomor kontakmu. Itulah pertama kalinya aku mendengar suara beratmu.

Semua berjalan biasa saja. Tidak ada yang spesial. Tapi entah kenapa, saat itu aku cukup merasa kagum dengan segala pembawaanmu yang lugas dan cerdas. Cantik dan menawan. Aku tidak akan pernah menyangka bahwa segala hal yang terjadi dalam hidupku sejak aku mengenalmu semua terjadi karenamu. Mungkin ini terdengar berlebihan. Tapi inilah keadaannya.

Kamu yang mengenalkan aku dengan Adhian (@adhian), seseorang dari masa lalumu yang kini menjadi seseorang yang juga bagian dalam hidupku. Aku tidak bisa memilih diantara kalian berdua, posisi kalian didalam hidupku sama-sama yang terbaik. Lalu, masa depanku sekarang. Dimana aku kuliah sekarang, semua gara-gara kamu. Kamu yang mengenalkan aku dengan Om Surya, owner Sriwijaya Foundation yang telah mengirim kita ke negara tetangga tersebut. Dengan si A, B, C, dan teman baik lainnya yang semuanya berawal darimu.

Sebetulnya, ada banyak hal lain yang belum aku katakan padamu. Salah satu alasan utamaku untuk pergi merantau ke negara yang sama saat kamu mengenyam pendidikan sarjanamu adalah aku inginkan untuk terus bersama kamu. Aku inginkan hubungan kita tetap erat sama seperti saat kita masih bersama dalam satu kota, negara dan menghirup udara yang sama. Perbedaan kota, waktu dan keadaan membuat komunikasi kita sempat berkurang. Walaupun aku tau, meskipun kita dalam satu kota pun, kita tetap jarang bertemu. Toh, kamu adalah seorang putri kecantikan dengan segala teman dan aktivitas yang tentu saja lebih penting daripada aku.

Lalu, saat aku berhasil menyusulmu ke negara tetangga. Aku berharap kita satu kota, satu kampus, paling tidak kita berdekatan. Ternyata tidak. Tempat kita sangat jauh. Perlu waktu 7 jam yang di tempuh jika menggunakan bus antar kota. Hiburanku saat itu, paling tidak aku menghirup udara di negara yang sama denganmu. Akan mudah untuk bertemu dan berbagi cerita denganmu lagi. Meskipun ternyata aku salah :')

Apakah kamu ingat saat kamu membawakan novel 5cm ku saat kamu baru pulang dari tanah air? Dan aku menyusulmu ke Kuala Lumpur hanya untuk mengambil novel itu. Sejujurnya, aku tidak menginginkan novel itu. Kalau kamu mau tau, sampai novel tersebut di jadikan layar lebar, aku masih belum selesai membacanya. Alasanku cuma satu dan mungkin tidak pernah kamu sadari, aku hanya ingin bertemu kamu dan berbagi sedikit cerita denganmu. Itulah sebabnya aku rela menempuh waktu 7 jam perjalanan hanya demi 10 menit pertemuan :)

Keinginanku sebetulnya sederhanya. Hanya ingin menghabiskan waktu yang banyak denganmu, berbagi cerita dan membuat memori untuk masa depan kita. Itulah kenapa, kita tidak memiliki banyak foto bersama. Karena kita terlalu sibuk membuat dan berbagi cerita. Karena menurutku pribadi, foto terindahku denganmu hanya tersimpan didalam memoriku. Sesederhana itu.

Waktu berlalu dengan sangat cepat. Kamu telah lulus dan bekerja. Tahun ini pun kamu akan menikah dengan pujaan hatimu, kurang dari 6 bulan lagi. Ah, kamu akan segera memiliki kehidupan baru dan menjadi milik orang lain. Atau mungkin kamu akan hidup di kota lain mengikuti suamimu.

Sungguh perubahan yang cepat. Tanpa kita sadari tanpa kita bisa hindari. Waktu terus berlalu dan tidak akan pernah menunggu. Begitulah kisah persahabatan kita. Yang selalu jauh direntang waktu. 
 
Terakhir, aku minta maaf atas segala keterbatasan dan kekuranganku. Aku memang bukan seseorang diharapkan untuk menjadi seorang sahabat yang baik untukmu. Tetapi tidak mungkin pula untuk menepis takdir, bukan? Ini adalah surat pertama di #30HariMenulisSuratCinta yang kutulis. Dan tulisan pertamaku ini kupersembahkan untukmu. Kepada kamu, sahabatku Nanda Alhumaira (@alhumaira) yang telah memberikan banyak perubahan untuk hidupku.

Lovesssss,
Trianti Ayu Amelia