Sunday, 6 January 2013

Time will always tell

Bonjour, Readers!

Sejujurnya di blog saya ini sudah banyak sekali draft-draft calon postingan yang belom sempat dipublish. Hihi. Lebih jujur lagi adalah, saya masih tidak percaya kalo sekarang saya hidup di tahun 2013. Kalo di lift-lift biasanya kita tidak menemukan angka 13, diganti sama 12A. Jadilah sekarang kita hidup di tahun 2012A. Hahaha *ndasmu!

Yak, banyak sekali yang sudah terjadi dalam hidup ini tanpa kita sadari. Siapa-siapa saja teman kita yang datang dan pergi, perkuliah, keuangan, hubungan dengan si ini dan itu dan lain halnya. Saya sendiri sempat introspeksi dan flashback ke beberapa tahun silam tepatnya setelah saya lulus SMA. 3 tahun dan tahun ini memasuki tahun ke 4. Saya juga masih tidak percaya bahwa saya sudah memasuki usia kepala dua dan tepatnya tahun ini akan memasuki 21 tahun. Dimana saya legal melakukan hal baru akan yang legal di usia saya nanti, walaupun apa yang akan legal tahun ini telah saya lakukan di tahun-tahun saya saat masih belasan :p

3 tahun berlalu sempat membuat saya berfikir, "Saya sudah melakukan apa saja? Apa yang telah saya dapatkan?." Rasanya seperti 0. Oh, kecuali masalah pertemanan dan nilai hidup sih. Di hampir tahun saya mengadu nasib saya untuk hidup di negara orang lain tanpa sanak saudara. Dengan membawa sejuta mimpi dan harapan keluarga. Sedangkan saya sendiri pada saat itu yang masih sedikit 'manja' merasa sangat bebas. Layaknya remaja labil yang biasa di penjara. Merasa bebas, tanpa aturan, bisa melakukan apa saja. Lupa dengan niat dan tujuan saya kesini. 

Sempat akrab dengan dunia malam, kehidupan glamour, taunya hanya bersenang-senang dan hal duniawi lainnya. Urusan dengan tuhan? Sudah tentu saya lupa. Sholatnya saja ketika saya kembali ke tanah air. Boro-boro urusan mengaji dan lainnya. Ah, rasanya sedih sekali kalau teringat hal itu lagi. Ya, membuka dan melakukan dosa memang lebih mudah daripada mengakuinya kan?.

2013 ini, ada banyak hal yang mengejutkan saya. Seperti beberapa teman sepermainan saya yang akan menikah di tahun ini. Totalnya mungkin kurang lebih ada 5 orang yang akan menikah. Saya masih sangat ingat dua tahun sebelum ini, mereka hanyalah remaja labil sama seperti saya. Masih hobi main. Pacaran juga tidak serius. Salah satu dari mereka yang akan saya ceritakan disini adalah teman terdekat saya dulunya. Dia orangnya sangat tertutup mengenai hal pribadinya, kecuali kepada saya. Dia hanya terbuka kepada saya. Saya ingat sekali bagaimana dulu dia menjalani hubungan dengan seorang lelaki yang setelah 8 bulan berpacaran dia baru mengetahui bahwa dia hanyalah selingkuhan dari hubungan lelaki itu dan pacarnya. Lalu, ia berpacaran dengan seseorang DJ hanya beberapa bulan. Hubungan mereka memang tidak lama, tetapi teman saya ini mengatakan ia sulit terlepas dari DJ ini karena sebetulnya ia dan DJ ini sudah bertunangan. Saya hanya bisa diam dan mendengar. Walaupun sebenarnya hati kecil saya sangat tidak percaya. Tapi mau berkata apa? Setahun berlalu, akhirnya teman saya ini berpacaran kembali dengan mantan pacarnya yang menjadikan dia selingkuhan. Teman saya ini baru saja lulus beberapa bulan lalu. Tepatnya 4 bulan lalu dan saya mendengar bahwa dia dilamar oleh mantan pacar yang sekaligus akan menjadi calon suami dia kelak. Tidak tanggung-tanggung, pernikahan akan berlangsung pada bulan maret nanti! Saya tidak berfikir negatif apapun tentang pernikahan mereka, saat mendengar hal itu saya hanya bisa stoned. Ya Allah ini teh serius? Sebab yang saya tau memang tidak ada angin apa-apa tentang keseriusan hubungan mereka. Saya sendiri, seiring berlalunya waktu sudah tidak begitu akrab dengan teman saya tersebut. Banyaknya hal yang terjadi dan konflik-konflik yang tidak terselesaikan membuat hubungan kami berantakan. Ditambah lagi dengan 'bumbu-bumbu pedas dan hangatnya kompor-kompor tetangga', yah sudahlah. Good bye.

Yang tidak terduga adalah saya malah dekat dengan salah seorang teman yang sekaligus senior dan musuh saya di masa lalu. Bukan musuh juga sih, tapi kami berdua sama-sama memiliki tingkat sentimental yang tinggi jika berhadapan. Sama-sama berwatak keras, sama-sama merasa selalu benar dan sama-sama memiliki gengsi yang sangat tinggi. Hingga akhirnya, ada banyak hal yang terjadi di akhir tahun 2011. Dimana saya sempat dibully untuk sesuatu yang agak kurang jelas sebetulnya tetapi saya juga malas untuk membalasnya. Dimana semua angkatan seperti bersatu untuk memusuhi saya karena 'kompor' dari seseorang yang pandai sekali berakting protagonis dan seolah-olah dia adalah orang yang paling menderita sedunia karena saya. Oh, God. Puhlease, you bitch!

Lambat laun, perlu sekitar 6 bulan setelah itu untuk mendapatkan teman-teman saya kembali. Teman-teman yang dulu sempat terhasut pun satu persatu mulai berfikir, bahwa apa yang mereka lakukan terhadap saya itu salah. Yang saya lakukan saat itu hanya bisa sabar, berdo'a dan terus berdo'a. Terdengar klise? Memang. Tapi tidak ada optioned lain yang bisa saya lakukan saat itu. Bayangkan, 24 jam saya harus berhadapan dengan serigala-serigala kelaparan tersebut. Satu kamar, satu rumah, bahkan satu lingkungan. Siapa yang tidak stress? Saya agak depresi saat itu. Urusan kuliah tidak baik, hubungan dengan siapapun buruk, saya sangat tertekan. Tidak ada seorang pun yang bisa di percaya. Saya selalu merasa insecure, tidak nafsu makan, tidak nafsu melakukan apapun, tetapi berdiam diri di rumah bukan sesuatu yang bagus. Saya disindir, dihina, dicaci, dimaki. Kepala saya sakit, tubuh saya rasanya gemetar. Ada rasa kemarahan yang sangat memuncak tetapi saya tidak bisa melakukan apapun. Di situlah mungkin Allah menunjukkan jalannya bahwa saya terlalu asyik dengan duniawi. Saya mulai berbenah lagi, mulai kembali lagi ke jalan di mana seharusnya saya berada. Selain itu, saya yang selalu tertutup masalah pribadi dengan keluarga, mulai dekat dengan keluarga. Terutama ibu saya. Saat itu saya tersadar bahwa keluarga akan selalu ada dan menerima keadaanmu di saat dan dalam hal apapun :)

2012, berlalu dengan baik. Saya merasa lebih baik. Hubungan dengan teman-teman juga mulai asyik, dengan keluarga, dengan tuhan. Saya merasa seperti saya yang baru. Di pertengahan tahun, saya mulai dekat dengan senior yang sekaligus musuh saya di jaman dahulu kala (HAHA!). Saya tidak bisa menceritakan dengan pasti bagaimana, tetapi kedekatan kami ini pun masih ada kaitannya dengan teman-teman yang pernah membully saya dulu. Teman-teman yang membully kami adalah teman kami sebetulnya. Teman akrab, teman satu rumah. Oh iya, teman saya yang dibully ini juga dulunya turut membully saya. Again and again, disebabkan karena mulut seseorang yang turut memanas-manasi keadaan lalu panaslah semua. Pada dasarnya juga, menurut pengamatan saya, manusia ini sukanya mendengar dan menerima-nerima saja semua informasi tanpa di filter dulu. Mbok ya pinteran dikit, piye?

Satu hal yang sangat saya syukuri setelah kejadian bully-membully itu adalah saya tidak dendam sama mereka yang membully saya. Saya hanya cukup menghindari saja, agar tidak muncul dendam ataupun bangkitnya kemarahan masa lalu. Ok, kembali pada teman saya. Sebut saja namanya L. Si L ini dibenci dan dijauhi tanpa dia mengetahui sebab dan kejadian sebetulnya apa dan kenapa. Si teman-teman yang telah dianggap L ini adalah sahabatnya malah menjauhi secara drastis. Bersenang-senang tanpa mengajak dirinya dan hal lainnya yang terang saja membuat L ini kebingungan. Saya pada saat itu hanya mengamati situasi tanpa mau ikut campur hubungan mereka. Toh, saya juga sudah berjanji pada diri saya untuk tidak terlibat dalam hubungan apapun dengan mereka. Tapi maaf, janji tersebut saya ingkari. Ada hal yang saya ketahui tentang kejahatan para pembully ini kepada L yang saya sudah tidak tahan lagi membiarkan L ini berusaha menyelesaikan masalahnya dan tenggelam dalam kebingungan seorang diri. Saat ada kesempatan untuk berdua dengan L, saya mengatakan semuanya pada L. Sesuatu yang diketahui oleh semua orang, tetapi tidak diketahui oleh L. Di saat semua orang menertawakanmu dan kamu tidak mengetahui apa yang mereka tertawakan itu adalah hal yang sangat membingungkan bukan? Awkward. Itulah yang terjadi pada L saat itu.

Saat saya menceritakan semua pada L, L langsung menangis. Menelpon pacarnya, ibunya dan sahabat-sahabatnya yang berada di tanah air. Saya sangat paham perasaannya bagaimana. Setelah itu hubungan L dengan para pembully itu tidak baik, tetapi justru sebaliknya L sangat baik hubungannya dengan tuhan. Sebab itu adalah cara terbaik yang bisa membuat hati dan hidup kita lebih tenang, ya kan? :)
L sendiri sudah berusaha mengklarifikasi dengan para pembully ada apa sebetulnya yang terjadi. Tetapi, para pembully bersikap seperti pecundang. Tidak mau mengatakan apa-apa dan tetap mengatakan "tidak ada apa-apa" dibalik "sangat ada apa-apa" sebetulnya. Entah, apa yang ada dalam akal pikiran mereka. Saya pun tidak mengerti.

Memang betul dengan pepatah "time will always tell". We will never know what will happen in the future. L ini akhirnya memutuskan untuk tinggal serumah, sekamar bahkan satu kasur dengan saya di beberapa bulan terakhirnya sebagai mahasiswi tingkat akhir. Saya hanya bisa membantunya sebisa saya. Saya tidak tahan melihatnya menangis. Apalagi saya tau pasti bagaimana perasaannya sebagai korban pembully-an. Disitu saya berjanji untuk berusaha membahagiakan dia (selain membahagiakan keluarga dan diri saya sendiri tentunya).

Hingga akhirnya, hubungan saya dan L ini seperti tidak bisa di pisahkan. Persahabatan yang terbentuk karena sebab dan akibat. Persahabatan yang terbentuk bukan hanya karena waktu. 

Itulah yang sampai saat ini menjadi misteri bagi diri saya. Sahabat yang saya pikir akan selamanya tinggal untuk saya malah berbalik 180 derajat dan seseorang yang sangat saya hindari di masa lalu, malah justru menjadi sahabat saya sekarang.

Selain itu, ada lagi hal yang sempat membuat saya kesal dan mengutuk diri saya sendiri. Saya yang seharusnya lulus di tahun ini, ada kemungkinan akan postpone hingga tahun depan *sigh*. Saya sendiri masih terus berusaha semaksimal mungkin mengejar ketinggalan-ketinggalan dan berharap semoga ada keajaiban sehingga saya bisa lulus tahun ini dengan nilai yang baik. AAMIIIIIIIIIIINNN YA RAB!

"Time will always tell" itu terus menerus terngiang dalam pikiran saya. Segala sesuatu yang terjadi sekarang memang tidak bisa kita prediksikan. Entah hal-hal tersebut bisa berubah 180 derajat dalam kehidupan kita di masa depan. Entah hal-hal yang sangat kita benci tersebut mungkin adalah hal yang paling baik untuk kita di masa depan. Dan hal yang kita anggap terbaik di masa sekarang bukanlah yang terbaik untuk kita di masa depan.

Pada akhirnya, ada banyak hikmah yang bisa saya petik dari beberapa kejadian di tahun-tahun yang sudah berlalu. Yang terpenting adalah tidak membenci hidup kita dan mengutuk apapun itu. Manusia memang hanya bisa berencana, tetapi apapun yang terjadi, rencana tuhan akan selalu indah. Walaupun pada awalnya kita pasti akan bertanya-tanya dan terjebak dalam kebingungan mengapa hal ini-itu terjadi.

Live your life to the fullest! Live in the moment! Do what you wanna do! Karena waktu yang sudah berlalu tidak akan mungkin bisa kembali. Tetap menjaga hubungan baik dengan yang sudah baik dan tetap baik kepada orang-orang yang 'tidak begitu' baik. Nikmati setiap momen yang ada.

Selamat menjalani hidup dengan senyuman! See you in the other post :)

Regards,
-A  

Thursday, 27 December 2012

Good bye 2012, Welcome 2013

Dewasa ini, tahun baru bukanlah sesuatu yang menarik lagi. Bukan sesuatu yang selalu ditunggu-tunggu layaknya anak kecil yang menginginkan mainan baru - at least bagi saya.
Tahun baru... Apa sih bedanya dengan tahun-tahun kemarin? Toh, malamnya kita tetap perlu tidur dan paginya tetap terjaga. Tetap melihat langit dan matahari yang sama. Berpijak pada bumi yang sama. Planet tetap berputar pada porosnya dan malam masih di payungi bintang dan bulan. Mungkin yang membedakan adalah suasana dan fenomena yang akan terjadi, ya. Seperti biasa, seingat saya di Indonesia pasti akan selalu ada infotainment yang mewawancarai paranormal kondang. Menanyakan apa yang akan terjadi di tahun 2013. Saya sendiri sejujurnya, suka mengikuti acara infotainment. Bukan suka, tetapi terpaksa, karena 70% acara di Indonesia adalah infotainment. Sangat menunjukkan bahwa rakyat Indonesia tingkat ke-kepo-annya luar biasa. Tapi itu dulu. Mungkin 3 tahun lalu, sebelum saya hijrah menggali ilmu di negara orang lain. Dulu mungkin saya selalu sebel dengan acara televisi yang itu-itu saja. Ganti channel apapun isinya tetap gosip. Saluran TV kabel memang sangat di perlukan, loh (apalagi untuk pembosan seperti saya). 

Infotainment di Indonesia, memang gencarnya mencari gosip patut di atungi jempol. Yang tidak penting saja bisa di buat menjadi 'sangat penting' loh :))
Mengenai pemberitaan fenomena yang akan terjadi di masa akan datang, biasanya saya akan mendengar dengan seksama, lalu menunggu apakah hal tersebut akan terjadi, atau tidak. Tidak percaya sih, makanya saya hanya berusaha mengingat apakah benar-benar terjadi. Toh, terjadi atau tidak terjadi, ya itu adalah kehendak ALLAH :D

Kadang saya sangat merindukan hal-hal seperti itu loh. Oh bukan kadang, tetapi sangat merindukan. Sejak beberapa tahun silam, saya tidak pernah menikmati infotainment lagi. Kecuali, saat saya kembali ke tanah air. Disini selalunyamenjelang tahun baru, saya hanya bisa berdiam diri di kamar, atau di library. Seharian penuh di depan laptop dan buku. Hanya beranjak untuk sesuatu yang sangat penting, ke toilet, sholat atau makan. University di negeri ini memang agak-agak 'kurang ajar' sih menurut saya. Teganya keterlaluan... *nangis di pojokan*

Tapi, bagaimanapun juga, saya sangat sadar apa yang sedang saya jalani adalah sesuatu yang telah saya pilih dan fikirkan dengan matang konsekuensinya. Jauh dari keluarga, jauh dari rumah, jauh dari kenikmatan kekayaan alam yang negara saya punya, jauh dari cita rasa kuliner Indonesia yang sangat merindukan, jauh dari fasilitas yang keluarga saya selama ini berikan. Begitulah, dimana saya harus bangkit dan berdiri di atas kaki sendiri. Berusaha bertahan dalam perjuangan. Supaya tidak ada pihak yang di kecewakan.

Biasanya dulu juga (saat masih sekolah), saya rajin menuliskan evaluasi dan resolusi. Bagus juga sebagai tolak ukur diri. Apa yang sudah tercapai, apa yang belum. Mana yang terealisasi, mana yang gagal. dan apakah saya hanya sekedar menulis dan bermimpi atau betul-betul ada usaha untuk mewujudkannya. Tahun demi tahun berlalu sepertinya saya mulai lupa dengan tujuan hidup saya, saya lupa dengan mimpi-mimpi saya. Baru akhir tahun 2012 ini rasanya saya mulai tersadar lagi akan arah dan tujuan saya. Telat kah?

Dalam hitungan jari, tahun 2012 ini akan segera berakhir. Saya pun tidak menyangka bahwa tahun ini akan berakhir begitu cepat. Mengingat betapa 3 tahun lalu saya sangat menantikan tahun ini (karena suatu sebab). Sangat banyak hal-hal yang telah terjadi. Hal-hal yang telah membuat saya belajar akan banyak hal.

Semoga di tahun 2013, saya bisa lebih baik. Menunaikan ibadah haji bersama keluarga, mungkin? Atau lebih giat menabung untuk bisa traveling lagi, mengunjungi belahan-belahan dunia yang belum sempat saya kunjungi, bisa menyelesaikan kuliah saya dengan segera dan GPA saya naik, mendapatkan teman-teman baru yang lebih baik (lumayan untuk koneksi kerjaan di masa depan), atau mungkin juga mendapatkan jodoh baru (HA!).

Apapun itu, apapun yang akan terjadi di masa depan. Semoga itu menjadikan saya dan juga kalian yang membaca tulisan saya menjadi lebih baik lagi. GOD SPEED!

Goodbye 2012, Welcome 2013
(and thank you for every lesson and memories)

Regards,
-A

Wednesday, 26 December 2012

Random thought

Akhir-akhir ini, saya memang lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Bukan hanya karena final exam yang akan datang dalam hitungan jari saja, saya juga menghabiskan waktu saya dengan blog-walking. Ah, rasanya sudah lama sekali saya tidak melakukan ini. Rindu dimana masa-masa saya menghabiskan waktu di depan laptop dengan berguna. Ada sesuatu yang saya dapat setelah berjam-jam atau bahkan seharian di depan layar ini. Saya sendiri baru sadar bahwa saya sudah aktif sebagai penulis blogs (blogspot) sejak oktober 2008. Sebelumnya saya juga memang suka menulis di kolom blogs friendster saat masih booming di tahun 2006. Lalu, freelance as a journalis sejak kelas 1 SMA tahun 2007 sampai tahun 2009 yang pada akhirnya saya dan teman-teman menghasilkan majalah yang di produksi sendiri dan tersebar di seluruh Sumatra-Selatan. Wah, saya rindu sekali masa-masa produktif seperti itu. Masa di mana saya struggling meyakinkan ayah saya bahwa saya kuat dan baik-baik saja. Maklum, beliau agak over-protected dengan saya yang sejak kecil kondisi tubuhnya agak lemah. Orang tua mana yang tidak protes kalau melihat anaknya terlalu aktif bahkan sampai pulang di pagi hari untuk kerjaan yang tidak tetap, apalagi saat itu saya masih pelajar. Walaupun pada akhirnya, ayah saya menyerah dan membiarkan saya melakukan apa yang saya suka (saat itu saya juga mati-matian menjaga kondisi fisik saya dan menyembunyikan kesakitan saya, karena takut ayah saya melarang lagi :D).

Menjadi jurnalis menurut saya adalah hal yang menyenangkan. Ya, menyenangkan. Karena saya memang dari dulu sepertinya hobi menulis dan ber-cuap-cuap. Saya terasa sekali kelebihan saya ini sangat menguntungkan saat saya harus bekerja dalam kelompok. Tak jarang saya selalu menjadi pemimpin dan pembicara. Disaat orang-orang harus mengalami demam panggung, keringat dingin, pucat dan sibuk komat-kami menghapal apa yang harus di presentasikan, saya santai saja dan (tetap) mengambil nafas panjang. Apa resepnya? Mungkin saya hanya kepedean. HAHAHA!

Saya masih ingat saat saya masih kelas 6 SD, saya pernah menjadi pemimpin upacara bendera 17 agustus di sekolah. Padahal saya adalah perempuan. Tetapi satu angkatan memilih saya karena saya berani dan bersuara lantang. Sebelumnya saya memang sering menjadi pengibar bendera, tetapi mungkin agak kurang cocok dengan saya. Lagi-lagi saya memang ber-skill mengenai suara, berbicara tegas.

Dewasa ini, saya merasa segala sesuatu potensi yang telah saya gali menjadi tertutup. Atau mungkin bahkan hilang. Saya sudah jarang menulis, sudah jarang berbicara. Bukan jarang berbicara, maksud saya menggunakan suara saya untuk hal-hal baik yang saya lakukan dulu. Saya merasa tidak menggunakannya dengan maksimal. Setelah saya kuliah di luar negeri, saya justru pasif. Entah karena saya terlalu letih, atau lingkungan saya yang menurut saya terlalu buas. Oh, itu dia.

Lingkungan saya di sini, penuh dengan orang-orang tamak. Yang haus akan pujian, kekuasaan, ke-populeran, kehormatan dan merasa dirinya adalah orang-orang yang paling bersinar. Saya sejujurnya sangat tidak terbiasa dengan drama-drama ini. Bully-membully. Ibaratnya dunia perbinatangan, siapa yang mendominasi dialah yang menang. Dan followers tetaplah followers, walaupun hati nuraninya berbicara bahwa dia mengikuti kelompok yang salah, dia akan tetap mengikuti pihak yang mendominasi. Yang dibully? Mungkin akan diam saja. Saya pribadi, pernah menjadi korban pembully-an. Yang saya lakukan adalah diam dan terus berdo'a. Tapi saya tidak hanya diam kok. Saya juga mengikuti alur permainannya. Saya simpan semua weapon saya. Yang memungkinkan untuk saya keluarkan suatu saat nanti. Saya pernah liat di salah satu blogs, penulis dan traveler favorite saya, dia menuliskan "time will always tell", perasaan saya seperti "JLEB". Dia benar. Pada saat saya dibully habis-habisan, saya hany bisa berdo'a semoga yang masih memiliki hati nurani dibukakan mata hatinya supaya diberikan kesadaran. Memang sangat tidak mudah untuk bertahan dengan keadaan seperti itu. Apalagi oknum yang membully adalah teman-teman satu rumah yang terprovokasi gara-gara tetangga, orang ketiga. Saya tidak pernah habis fikir bagaimana orang yang pernah dekat dengan saya bisa terhasut dengan orang baru. Lebih menyakitkan lagi adalah, ketika mereka tidak membiarkan ada seorangpun yang menjadi teman saya dan turut melabrak orang yang tetap support saya dan mengatakan pada mereka bahwa mereka 'di cuci otak' sama saya. I was like... What the... What a narrow minded. Beberapa bulan kemudian, satu persatu dari kelompok yang ikut-ikutan menjauhi saya sadar. Satu persatu semua kembali dan mereka bercerita bagaimana 'dulu'. Disitu semua terbuka. Again, time will always tell dan kebenaran akan selalu benar entah seberapa lamanya. Seseorang yang dulu menjadi sumbernya, sekarang di jauhi. Semua orang sudah tau bagaimana dia sebetulnya. Semua orang mengatakan "Duh, apa sih yang saya fikirkan dulu sampai saya ikut terhasut omongan yang non-sense?." 

Saya cuma bisa tersenyum. Itulah manusia, kadang hanya mendengarkan tanpa berfikir. Sangat mudah terhasut untuk sesuatu yang belum tentu benar. Dan hanya berani menjadi pengikut tanpa berani bersuara. Sejujurnya, saya bukanlah pengecut untuk hal-hal seperti ini. Saya akan ladenin kok. Hanya saja, saya inginkan pertarungan 1 vs 1. Bukan keroyokan seperti itu. Semua orang juga bisa kalau keroyokan. Disini, dengan akal sehat pun semua bisa bilang kalau siapa yang sebetulnya pengecut? ;)

Yasudahlah, apapun yang telah terjadi tidak akan pernah mungkin akan kembali lagi. Yang bisa saya lakukan sekarang adalah tetap baik kepada semua yang telah baik dan berusaha baik kepada siapa yang tidak baik. Semua waktu yang berlalu adalah pelajaran yang sangat berharga untuk saya. Terima kasih atas kesakitan, kebahagian, pengkhianatan dan lain-lain yang telah membuat kita sama-sama belajar agar lebih baik di masa depan.

Dan melalui tulisan ini, saya berjanji untuk lebih produktif lagi :)

-A

Sunday, 23 December 2012

Me and my idol

Bonjour!

Lately, i've been (makes my self) busy with watching Youtube of Agnes Monica. Agnes Monica? Yes! The young diva of Indonesia. Without i realized, i was grow up with her. I'm being her fans since i was 7 years old. As i remember, i really love to watch her video clip 'Si Meong' and the most i like was 'Bala-Bala'. I even still remember her expression when she was sing that song. And then i always watched her when she was a host for several children's programs. My favorite was Tralala-trilili (and i still remember the gesture of her hand too, when she used to say Tralala-trilili). Since that, i was falling in love with her, and yes. I still in love with her. I would never let my self missed any single thing of her. Her music, her video clip, her tv drama's, and also i always follow up her awards news! Sounds freak? Yes, i am.

Today, i'm watching her 'Make it happen' in Youtube. I apologize i couldn't watch it live anymore, since i was not live in Indonesia start by 3 years ago. At the beginning, Agnez have an interaction with her fans: "Who ever watch my show more than 10? 20? 30? 50?... and 100? More than 100?." You know how was my expression when she asked like that? I was like... "meeeee! meeeee!" and yeah, i'm totally freak. I just watching through youtube not in real. Agnes wouldn't recognize me (and even i watch in her live show too).

A lot of words that i wanna say about this. But a day maybe would never enough to write about how i love her. And, this is what am i suppose to tell you, NezindaHood:
I'am her fans too. I love her like the way all of you do. But, puhlease. If you really loves Agnes as your idol, you should respect her by 'be a good fans'. That's it. Often i read in twitter, Agnes fans had a twitwar with another celebrity. It makes reputation of the artis down. You know it? Be a smart fans.

Agnes Monica
i have no idea how she inspired me. With her quote "dream, believe and make it happen." She just right. And yeah, right. Totally right. To see her nowadays, i feel so satisfy. Damn, i was so right to fall for her since i was 7 years old. Being her fans all my life! I even had  a dream to choose the same university as she used to before :p it was all because, i really wanna meet her. HAHA!

For me, i don't wanna be 'an extraordinary fans'. I just wanna be an 'ordinary fans'. I like her personality, i like her music, i like her style, and i like how she hide her personal life to public :) You really know how to hide it well, Agnes. Bravo!

Being too fanatic fans is tiring. You know it?. Yes, it's soooo tired! You feel like your idol is yours. You will protect them as much as you can. Or even do some another 'extraordinary' things again. That's why, you need to be a smart fans. Support the artist and enough. If you are doing 'too over', you will make reputation of your idol also down. Don't you think so?

I likes a lot of artist too. I likes Mike Posner, Eminem and Selena Gomez too. But i just keep the distance my illusion of being a fans. Make it balance. Life and reality. Again and again, being a fans of an idol is SUPER TIRING! Last: "Be a good fans, be a smart fans, and keep respect each other", are the best thing you should remember if you have an idol! ;)


 Extra: i love them, the artist above. Whose mad? :p

Tuesday, 6 November 2012

Berbicara tentang cinta (Part 2)

Rasanya wajar, kenapa otak dan hati tidak berjalan seirama ketika aku bertemu orang baru. Wajar saja, alasannya adalah karena aku masih mencintai kamu. Tidak masalah jarak dan waktu, seberapa jauhnya kamu dari aku dibelahan bumi ini. Atau bahkan sampai ujung andromeda sekalipun. Kamu selalu menang, hatiku tetap memilih kamu.

Aku sadari, kamu memang belum tergantikan dan memang rasanya aku pun enggan menggantimu dengan orang baru. Kenangan kita terlalu banyak. Terlalu. Aku garis bawahi itu.
Aku putar kembali memori satu minggu lalu, dimana aku bertemu orang baru. Dia cukup menyenangkan dan cerdas. Sejujurnya, aku senang. Tapi tidak bahagia. Rasanya hanya mulut yang tertawa tapi batinku tidak. Ada rasa tawa yang tidak lega. Tidak selega aku tertawa lepas denganmu. Tawa renyah kita yang seirama membahana seruangan, kalo kita sudah bersama. Saat bersamanya, seringkali yang ada di fikiranku adalah kamu. Lalu, aku diam. Senyap. Tawaku terhenti disitu. Meninggalkan jutaan tanya pada dirinya, si dia yang berusaha memasuki kehidupanlu. Menggantikan posisimu dihatiku.
Meskipun hanya pesan-pesan singkat, entah kenapa itu bisa mengingatkan banyak kenangan tentang kamu. Semakin tidak penting isinya, semakin bodoh percakapan kita, itu semakin membuat aku bahagia. Ada rasa-rasa haru yang tidak bisa diucapkan kata-kata. Aku kesepian, aku mau kamu kembali. Aku mau kamu ada disini lagi.
Aku hanya berfikir kenapa kita tidak bisa bersama? Takdir. Itu tidak bisa kita langkahi lagi. Padahal mauku, tetap kamu. Kebahagiaanku, ada padamu. Aku selalu rindu kamu, ini jarang terjadi padaku yang notabene memang pembosan.
Aku selalu jatuh cinta padamu, ini bukan hal yang biasa pada diriku.
Kamu hebat, bisa membuat aku segila ini. Kamu hebat, tidak memberikan otak dan hatiku celah untuk yang lain. Kamu hebat, bisa membuat aku bertahan mencintai kamu. Kamu hebat telah membuat hatiku tetap memilihmu.
Aku tau ini mungkin akan sia-sia pada akhirnya, tapi selama aku dan kamu bahagia, aku harus bilang apa?

Saturday, 3 November 2012

Berbicara Tentang Cinta

Bonjour!

Bagi sebagian orang, berbicara tetang cinta merupakan hal yang sensitif. Sama seperti halnya berbicara masalah keuangan. Iya kan?

Cinta sendiri menurut banyak orang adalah sesuatu yang tidak terdefinisikan. Menurut saya sendiri, cinta itu sesuatu yang aneh. Kadang bisa membuat kita bahagia, bahkan sangat bahagia. Ataupun Sedih hingga hampir bunuh diri. Cinta bisa membawa banyak perubahan, negatif atau positif. Reaksi yang dihasilkan cinta pun bermacam-macam. Memang, belum ada teori solid yang menjelaskan tentang ini. Bahkan, belum ada obatnya sama sekali karena hal ini. Bagaimana bisa dicari obatnya? Penyebab datangnya cinta pun tidak bisa di definisikan.

Sejujurnya saya sendiri sudah lama tidak merasakan jatuh cinta. Sejak berakhirnya percintaan saya april 2011 lalu (Kalau tidak salah) dan hingga saya menuliskan ini, berarti sudah memasuki 1 tahun 7 bulan saya single. Lebih lama daripada hubungan yang saya jalani dengannya. Tidak, itu bukan hal yang tragis menurut saya. Yang lebih tragis adalah saya bahkan lupa rasanya jatuh cinta itu seperti apa. Bagimana rasanya mencintai dan dicintai. Lupa rasanya bagaimana memiliki dan dimiliki. Sepertinya apapun yang terjadi, saya pun tidak terlalu peduli dan ambil pusing soal apapun. Yang ada hanyalah diri saya. Selama 1 tahun 7 bulan single, alhamdulillah saya tidak terlalu merasakan 'galau', 'kesepian' atau hal-hal yang identik dengan negatif lainnya. Alhamdulillah saya dikelilingi oleh teman-teman yang baik. Dan lebih alhamdulillah lagi saya sangat menikmati kesendirian saya.Menurut saya, ada kebahagiaan tersendiri untuk melakukan hal-hal apapun sendirian. Kesendirian justru akan membuat saya berfikir dan figure out apa yang akan saya lakukan untuk masa depan saya dan apa yang telah saya lakukan di masa lalu.

Bukan, ini bukan denial. Ini fakta. Saya menuliskan ini bukan karena saya takut di cap jomblo. Lah, kalaupun memang jomblo memang kenapa? :p

Saya akui memang saya sempat dekat dengan beberapa orang. Bahkan tidak lama sejak saya putus. Tapi, kenapa rasanya hati ini enggan? Entah kenapa rasanya hati ini sungkan? Pada saat itu, dibenak saya hanya ada fikiran "oh, mungkin karena saya baru saja merasakan kandasnya percintaan sebelumnya, itulah sebabnya hati ini belum siap menerima siapapun." Masuk akal. Tapi sekarang? Bahkan sudah lebih dari satu setengah tahun sejak kejadian tersebut. Si mantan pun mungkin sudah lama memiliki pengganti diri ini. Sedangkan saya tetap betah saja sendiri. Ada rasa-rasa tersendiri yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ya, tentu saja itu masalah hati. 6 bulan lalu, saya akui bahwa saya jatuh cinta dengan seseorang. Dia itu unrequited and unintended love sebenarnya. Saya jatuh cinta dengan orang yang tidak terduga dan jatuh cinta dengan orang yang tidak semestinya saya cintai. Awalnya pun saya tidak berniat untuk mencintai dia, bahkan di masa lalu saya pernah bersumpah tidak akan pernah jatuh cinta padanya sampai kapanpun. Well, words just a words. Apa yang bisa kita lakukan disaat hati memilih dia, meskipun dia adalah orang yang salah?

Saya sendiri tidak menampik bahwa saya jatuh cinta padanya karena dekatnya hubungan kami dan seringnya pertemuan dan komunikasi. Otak dan hatipun berkata seirama. Setuju atas perasaan-perasaan yang saya alami. Sayangnya, saya dan dia bagaimanapun memang tidak bisa bersama. Ada banyak faktor yang saya tidak bisa ungkapkan. Biarlah, hal ini hanya saya dan Allah yang tau :)

Pernah, saya mengatakan saya suka dia. Saya pernah confessed saya sayang dia, saya mencintai dia. Dan dia pun begitu. Tapi menurut saya, itu tidak bisa dikategorikan sebagai 'tembakan' untuk menyatakan menjadi pacar. Again and again, saya akui, saya jatuh cinta pada orang yang salah. Seandainya.......

Menyesal pun, tidak akan pernah ada hasilnya. Toh, sudah terjadi buat apa disesali?. Saya sudah tau konsekuensi mencintai seseorang, kita akan merasakan sensasi kebahagiaan yang luar biasa atau bahkan sebaliknya. Entah reaksi kimia apa yang terjadi dalam tubuh kita saat kita merasakan cinta. Secara saya bukanlah scientist dan saya malas mencari tau apa nama ilmiahnya.

Ya, itulah yang saya ingat terakhir kali saya mencintai seseorang dengan hati dan otak yang seirama. Meskipun pada akhirnya, tidak terjadi apa-apa diantara kita. 6 bulan yang lalu....

Kadang saya merindukan degup-degupan jantung yang menghentak dengan keras, seolah hampir terlepas dari tempatnya. Tangan dingin dan basah karena kegugupan bertemu seseorang yang dicinta. Perasaan-perasaan was-was kekhawatiran tentang seseorang, dan segala macam hal lainnya yang dialami seseorang jika sedang jatuh cinta. Tetap berkata "Aku belum ngantuk", padahal saya tau mata ini rasanya sudah tidak sanggup untuk membuka. Saya hanya tidak ingin percakapan kita terhenti. Atau sengaja tidak memasang alarm, karena saya tau seseorang akan menelpon saya dan menyapa dengan lembutnya "Good morning, Sweetheart. Wake up. Don't forget your breakfast and have a nice day. Love ya!" Iya, saya rindu hal-hal seperti itu.

November 2012,
Ada orang baru yang akhir-akhir ini selalu ada difikiran saya. Orang pertama yang dibenak saya saat saya terjaga ataupun ingin beranjak tidur. Berjalan, membaca, makan, atau bahkan melakukan aktivitas lainnya. Tapi anehnya, dia hanya ada di otak saya! Dia hanya berada di fikiran saya. Hati saya? Belum. Sepertinya hati saya sudah cukup trauma atau bahkan kaku untuk menerima orang baru. Hati saya pun sepertinya kembali belajar bagaimana seharusnya ia bersikap. Mungkin dikarenakan lamanya hati ini tidak terlatih untuk merasakan chemistry-chemistry seperti itu lagi.

Semoga setelah tulisan ini saya publish, saya bisa bertemu dengan orang yang tepat di waktu yang tepat. Maka otak dan hati pun akan kembali berjalan dengan seirama. Langsung melamar pun sepertinya adalah ide yang menarik. Hahahaha. Ndasmu! :p

Regards,

-A